.:[Double Click To][Close]:.

Thursday, June 3, 2010

Pendaki Muda Tewas di Everest


Di pagi hari pendakian, Peter Kinloch sangat gembira. Pria Skotlandia berusia 28 tahun itu mencapai impiannya seumur hidup untuk menaklukkan Gunung Everest.

Namun pemandangan yang ia lihat dari atap dunia itu adalah saat terakhirnya.

Beberapa menit setelah mencapai puncak, Kinloch menjadi buta.

Spesialis IT muda itu telah berhati-hati dalam pendakian berbahaya yang berlangsung selama 13 jam itu dari base camp sampai ke puncak. Setelah mencapai puncak, timnya hanya menghabiskan beberapa menit untuk istirahat dan mengambil foto sebelum turun.

Itulah saat rekan-rekan pendakinya menyadari sesuatu yang aneh: Kinloch tiba-tiba tersandung dan kehilangan kordinasi.

Setelah satu jam, Kinloch mengakui pada pemimpin tim bahwa ia mengalami kesulitan melihat dan membutuhkan bantuan untuk turun lewat tangga.

Segera setelahnya, dia mengungkapkan bahwa dia benar-benar buta.

Kinloch terkena fenomena aneh ini sebelumnya pada pendakian lain, katanya. Dia tahu itu bukan kebutaan salju karena dia tidak merasakan sakit. Ini lebih seperti kerusakan darah pada retina, pendarahan dari membran dibalik matanya.

Tapi tidak seperti pendakian lainnya, kali ini kondisi itu terbukti fatal.

Setelah berjuang dengan Kinloch selama berjam-jam dan gagal menuruni bagian "Death Zone", tim itu harus membuat keputusan kritis: Meninggalkan Kinloch, atau menghadapi kematian mereka sendiri.

"Tim penyelamat melakukan segalanya dengan segenap kemampuan mereka untuk menolong Peter selama 12 jam, mendekati dalam jarak berbahaya demi menolong tanpa membahayakan diri mereka sendiri," seorang rekan tim yang tak disebutkan namanya menulis di website EverestNews.

Tim pergi lebih dahulu dan Kinloch tewas pada ketinggia ekstrim dari zona kematian Everest. Tubuhnya masih disana dan mungkin tidak akan pernah ditemukan.

Spesialis IT itu adalah pendaki gunung yang berpengalaman: Everest merupakan yang kelima dalam daftar pegunungan yang telah ia daki untuk mendapatkan kesadaran bagi orang yang menderita Obsessive Compulsive Disorder (OCD), lapor koran Inggris The Independent.

Ayah Kinloch mengatakan pada Daily Mail bahwa itu membantu mengetahui bahwa putranya telah mencapai impian seumur hidupnya.

"Kami  senang bahwa dia telah mencapai salah satu ambisinya," katanya.

No comments:

Post a Comment