.:[Double Click To][Close]:.

Monday, July 12, 2010

Learning Disorder



Learning Disorder/Disabilities (LD) atau Gangguan Belajar adalah keterbelakangan yang memengaruhi kemampuan seseorang untuk menafsirkan apa yang mereka lihat dan dengar. LD juga merupakan ketidakmampuan dalam menghubungkan berbagai informasi yang berasal dari berbagai bagian dalam otak. Kelemahan ini akan tampak dalam beberapa hal, seperti kesulitan bicara, menulis, koordinasi, pengendalian diri atau perhatian. Kesulitan-kesulitan ini tampak ketika penderita melakukan kegiatan-kegiatan sekolah, dan menghambat proses belajar membaca, menulis, atau berhitung yang seharusnya ia lakukan.

Kesulitan belajar dapat dibagi menjadi 3 kategori besar:
  1. Kesulitan dalam berbicara dan berbahasa
  2. Permasalahan dalam hal kemampuan akademik
  3. Kesulitan lainnya, yang mencakup kesulitan dalam mengoordinasi gerakan anggota tubuh serta permasalahan belajar yang belum dicakup oleh kedua kategori diatas.


Kesulitan Dalam Berbicara dan Berbahasa

Orang yang mengalami kesulitan jenis ini menemui kesulitan dalam menghasilkan bunyi-bunyi bahasa yang tepat, berkomunikasi dengan orang lain melalui penggunaan bahasa yang benar, atau memahami apa yang orang lain katakan.

Gangguan Kemampuan Akademik

Keterlambatan dalam membaca

Tipe gangguan ini disebut juga dengan diseleksia. Pada kenyataannya, kesulitan membaca dialami oleh 2-8 persen anak sekolah dasar.

Siapapun dapat mengalami kendala dalam memahami sebuah bacaan. Para ahli berpendapat bahwa penderita diseleksia mengalami ketidakmampuan dalam membedakan dan memisahkan bunyi dari kata-kata yang diucapkan. Contoh, Dennis tidak dapat memahami makna kata "bat" dan malah mengeja satu per satu huruf yang membentuk kata itu: b, a dan t.

Dalam tingkatannya yang lebih tinggi, kesulitan memahami bacaan dapat beralih dari sekadar mengenali kata-kata menuju pada pemahaman susunan kata-kata dalam sebuah kalimat yang lengkah. Seseorang yang menderita gangguan membaca mungkin akan segera melupakan kata-kata yang baru saja dibacanya, sehingga akhirnya tidak dapat memahami apa yang hhendak diungkapkan oleh kalimat itu.

Keterlambatan dalam menulis

Seorang anak yang memiliki kesulitan dalam membaca serta mengekspresikan gagasan atau ide dalam bentuk bahasa yang baik dan benar, kemungkinan besar menderita ketidakmampuan dalam menyusun kalimat yang lengkap serta benar.

Keterlambatan dalan berhitung

Berhitung melibatkan pengenalan angka-angka, pemahaman berbagai simbol matematis, mengingat berbagai fakta seperti tabel perkalian, dan pemahaman konsep-konsep abstrak seperti nilai tempat serta pecahan. Hal ini mungkin terasa sulit bagi anak-anak penderita kesulitan berhitung. Masalah dengan angka-angka atau konsep dasar sepertinya datang sejak awal. Sedangkan masalah yang berhubungan dengan matematika yang baru terjadi pada kelas-kelas terakhir lebih sering berkaitan dengan logika.

Banyak aspek dari berbicara, mendengarkan, membaca, menulis dan berhitung itu saling tumpang tindih serta bersatu-padu membangun apa yang disebut dengan fungsi kemampuan otak. Jadi, tidaklah aneh bila ada orang yang didiagnosis mengalami lebih dari satu kesulitan belajar.

Kesulitan Dalam Memusatkan Perhatian

Hampir 4 juta anak sekolah menderita kesulitan belajar. Berdasarkan data yang ada, 20% dari mereka mengalami kesulitan dalam memusatkan perhatian.

Anak-anak maupun orang dewasa yang menderita kesulitan dalam memusatkan perhatian biasanya gemar melamun secara berlebihan. Namun ketika mereka berhasil fokus pada suatu hal, perhatian itu dengan segera terlaihkan pada hal lain, seringkali hal-hal kecil seperti semut yang melintas diatas buku yang sedang dibacanya.

Penderita ADHD (Attention Deficit and Hyperactivity Disorder) - Gangguan Pemusatan Perhatian dan Hiperaktif pada anak-anak, yang sebagian besar diderita anak laki-laki, gangguan perhatian sering diikuti dengan sikap yang hiperaktif.

Anak-anak yang hiperaktif tidak sanggup duduk tenang. Dalam bermain, mereka tidak sanggup menunggu giliran. Hal ini sulit diabaikan begitu saja. Karena adanya ledakan energi ini, anak-anak ini sering bermasalah dengan orangtua, guru dan teman-temannya.

Pada orang dewasa, tindakan hiperaktif tampak sebagai kegugupan, kegelisahan, dan sulit mengantri dalam barisan. Namun masalah yang berkaitan dengan perhatian dan berkonsentrasi ini terus berlanjut hingga mereka dewasa, misalnya di tempat kerja dan tempat-tempat umum.

Faktor-Faktor Yang Menyebabkan Kesulitan Belajar

Gangguan Perkembangan Otak Semasa Bayi Masih Berupa Janin

Pada masa awal kehamilan, cikal bakal otak terbentuk. Fungsinya masih sebatas mengendalikan fungsi-fungsi kehidupan yang paling dasar, seperti bernafas dan mencerna. Belakangan terbentuklah suatu celah pembagi yang membagi serebrum - bagian otak yang berfungsi untuk berpikir - menjado dua bagian: kiri dan kanan. Akhirnya, terbentuklah bagian-bagian yang berperan dalam proses pengindraan bersamaan dengan terbentuknya organ-organ indra. Begitu pula halnya dengan bagian-bagian lain yang berfungsi untuk memusatkan perhatian, berpikir dan emosi.

Ketika sel-sel baru terbentuk, ia bergerak ke tempat lainnya guna membentuk berbagai struktur otak. Sel-sel saraf dengan cepat bertumbuh serta membentuk jaringan dengan bagian otak lainnya. Jaringan inilah yang memungkinkan suatu informasi dapat diterima berbagai bagian otak secara bersamaan.

Sepanjang masa kehamilan, perkembangan otak ini rentan sekali mengalami gangguan. Jika gangguan atau permasalahan terjadi pada awal masa kehamilan, maka sang janin mungkin sekali akan mati, atau bila sempat lahir akan mengalami cacat bawaan serta gangguan mental.

Faktor Genetik

Sebagai contoh, anak-anak yang memiliki kelemahan dalam membaca, dan demikian pula halnya dengan kesulitan dalam memadukan berbagai bunyi bahasa dan kata sehingga menjadi kesatuan makna, kebanyakan memiliki orangtua yang juga mengalami masalah serupa. Kendati demikian, kesulitan belajar yang dialami orangtua sedikit berbeda dengan yang dialami anaknya. Orangtua yang menderita kelemahan dalam menulis kemungkinan memiliki anak yang mengalami kesulitan dalam mengekspresikan gagasan atau idenya dengan bahasa yang baik dan benar. Inilah alasan mengapa kesulitan belajar tampaknya tidak diturunkan secara langsung. Apa yang mungkin diturunkan adalah disfungsi otak yang dapat mengarah pada kesulitan belajar.

Beberapa wujud kesulitan belajar juga dipengaruhi oleh lingkungan keluarga. Sebagai contoh, orangtua yang mengalami kesulitan dalam berbahasa barangkali akan berbicara lebih sedikit kepada anaknya, atau bahasa yang digunakan orangtua kepada anaknya itu juga tidak benar. Dalam kasus seperti ini, sang anak telah memiliki teladan yang salah dalam hal berbahasa dengan benar. Itulah sebabnya mengapa sang anak tampak mengalami kesulitan berbahasa.

Rokok, Alkohol dan Penggunaan Narkoba

Para ahli menemukan bahwa seorang ibu yang merokok selama kehamilannya kemungkinan besar akan melahirkan seorang bayi dengan berat dan ukuran yang lebih kecil. Ini penting sekali diperhatikan, karena bayi yang terlahir dengan berat kurang dari 5 pon, sangat rentan terhadap berbagai penyakit, termasuk gangguan atau kesulitan dalam belajar.

Alkohol juga berbahaya untuk perkembangan otak janin. Ini terjadi karena kemungkinan besar alkohol akan mendistorsi perkembangan neuron. Alkohol dengan kadar tinggi yang dikonsumsi pada masa kehamilan berkaitan erat dengan sindrom gangguan pada janin karena alkohol (fetal alcohol syndrome), suatu kondisi yang dapat menyebabkan bayi lahir dengan berat yang terlampau ringan, menurunnya tingkan kecerdasan, hiperaktif, serta beberapa cacat fisik lainnya. Jadi, mengonsumsi alkohol selama masa kehamilan dapat memengaruhi perkembangan anak dan menimbulkan masalah dalam proses belajar, perhatian, mengingat, atau memecahkan masalah.

Obat-obatan terlarang seperti kokain, khususnya yang dihisap, kemungkinan besar dapat menyebabkan efek negatif terhadap perkembangan sel reseptor otak. Para peneliti meyakini bahwa kesulitan belajar dan ADHD, kemungkinan berkaitan dengan sela reseptor yang rusak ini.

Masalah Selama Kehamilan dan Kelahiran

Dalam beberapa kasus, sistem kekebalan tubuh seorang ibu bereaksi terhadap janin dan menyerangnya seolah-olah ia adalah infeksi penyakit yang menyerang sang ibu. Permasalahan semacam ini mungkin menyebabkan sel-sel otak baru terposisikan pada bagian yang salah dalam otak.Selain itu, selama proses kelahiran, tali pusar mengalami pembelitan sehingga menghambat aliranoksigen ke janin. Hal ini pada gilirannya melemahkan fungsi otak dan menyebabkan LD.

Racun di Lingkungan Sekitar Anak-Anak

Selama setahun setelah bayi dilahirkan, sel-sel otak baru dan jaringan saraf masih terus berkembang. Selsel ini juga rentan terhadap kerusakan.

Kadmium dan timah hitam, yang banyak ditemukan di lingkungan sekitar kita, menjadi fokus utama penelitian saraf. Kadmium yang digunakan dalam proses pembuatan produk baja, dapat dengan mudah ditemukan dalam tanah dan makanan yang kita makan. Timah hitam banyak terkandung dalam bahan bakar, cat, dan juga pipa air. Penelitian terhadap binatang, yang disponsori Lembaga Kesehatan Nasional, menunjukkan adanya hubungan antara timah hitam dan kesulitan belajar. Tikus yang terkontaminasi oleh timah hitam, mengalami perubahan pada gelombang otaknya, sehingga menghambat kemampuan belajarnya. Masalah dalam belajar ini berlangsung selama beberapa minggu dan berakhir ketika tikus itu tidak lagi terkontaminasi timah hitam.

Perbedaan Pada Otak

Penelitian terbaru menyatakan adanya kemungkinan variasi dari bagian otak yang disebut dengan planum temporale, area yang berhubungan dengan bahasa yang ditemukan pada kedua belah otak. Pada penderita diseleksia, kedua bagian tersebut mempunyai ukuran yang sama. Sebaliknya, pada orang normal, bagian kiri planum temporale memiliki ukuran yang lebih besar. Sebagian peneliti yakin bahwa kesulitan membaca dipengaruhi oleh perbedaan ini.

Dalam penelitian lebih lanjut, para ahli berharap untuk dapat mempelaharinya secara bertahap tentang bagaimana perbedaan struktur dan proses kerja otak ini menyebabkan kesulitan belajar, serta bagaimana mengusahakan agar bentuk fisik otak mereka sama dengan orang normal.

Obat-Obatan Yang Tersedia

Selama hampir enam dekade, banyak anak yang menderita gangguan pemusatan perhatian memperoleh manfaat dari terapi obat-obatan. Tiga macam obat-obatan yakni Ritalin (methylamphenidate), Dexedrine (dextroamphetamine), dan Cylert (pemoline), telah sukse dipergunakan. Meskipun demikian, obat-obatan ini merupakan stimulan dengan kategori yang sama dengan obat diet. Obat-obatan ini jarang sekali membuat seorang anak merasa "tinggi" atau gelisah, melainkan dalam jangka waktu teretentu membantu sang anak mengendalikan dorongan hati mereka yang meledak-ledak serta perilaku hiperaktif mereka.

Dalam Sosial, Lingkungan dan Keluarga

Anak yang bermasalah menyerap apa saja yang dikatakan orang lain secara serampangan mengenani diri mereka. Mereka mungkin melabeli dirinya sendiri dengan "terbelakang", "lambat", atau "berbeda." Kadang-kadang mereka tidak memahami letak perbedaan mereka dengan orang normal, tetapi yang pasti mereka merasakan betapa menyakitkannya hal itu. Penderitaan atau rasa malu yang mereka alami dapat menyebabkan mereka bereaksi dengan berbagai cara, mulai dari penarikan diri sepenuhnya terhadap orang-orang di sekitar mereka hingga memasang sikap permusuhan. Seperti berkelahi, memutuskan untuk berhenti sekolah, atau mengisolasi diri dan jatuh dalam depresi kejiwaan.

Anak yang menderita ADHD kemungkinan memiliki kebiasann menarik diri dan bertengkar. Anak dengan kesulitan belajar kemungkinan besar lebih menyukai bergaul dengan anak yang usianya lebih muda, tetapi memiliki level kemampuan yang sama. Anak-anak ini mungkin juga menjadi penyebab dari masalah-masalah sosial.

Semakin banyak kegagalan yang mereka hadapi, makin besar pula kemungkinan mereka melakukan tindakan dengan maksud melampiaskan rasa frustasi dan rendahnya rasa percaya diri. Semakin sering meeka melampiaskannya, semakin sering pula mereka harus menerima hukuman, sehingga pada gilirannya makin menurunkan rasa percaya diri mereka.

Mereka tidak dapat memperkirakan akibat dari tindakannya, menyalah-tafsirkan tanggapan-tanggapan di lingkungan sekitarnya, dan kurang dapat menyesuaikan perilakunya dalam situasi sosial yang berbeda-beda. Karena itu mereka terkadang diasingkan dan ditolak oleh rekan-rekan sebayanya. Diperparah lagi oleh kelemahan akademis, mereka akans emakin mengalami rendah diri serta kurang berharga.

Memiliki anak yang mengalami kesulitan belajar menyebabkan keluarga menanggung beban emosional. Orangtua sering mengalami beban emosional, penolakan, sikap menyalahkan diri sendiri, frustasi, marah dan putus asa.

Tidak Dapat Disembuhkan

Meski banyak orang tidak mampu mengatasi kelemahan fungsi otak mereka, tetapi mereka belajar untuk menyesuaikan diri dan menjalani kehidupan. Beberapa dari mereka menciptakan kehidupan mereka sendiri dengan tidak melalui kesembuhan, melainkan melalui pengembangan kekuatan personal mereka. Mereka mencoba menikmati bakat mereka yang lain. Jadi, meskipun gangguan kelambatan belajar itu tidaklah lenyap, namun dengan memberikan pengalaman belajar yang benar, seseorang dapat memiliki kemampuan yang luarbiasa untuk belajar. Fleksibilitas otak untuk mempelajari kemampuan baru ini barangkali merupakan hal terbesar dalam tahun-tahun awal kehidupan seorang anak, dan akan hilang setelah masa pubertas. Inilah sebabnya mengapa interveni dini itu begitu penting. Terlepas dari semua itu, kita harus memperrtahankan kemampuan belajar seumur hidup kita.

No comments:

Post a Comment